Home / Berita / Riset: Momok Politik Uang

Riset: Momok Politik Uang

KOTAMOBAGU – Tahun 2015 tak lama lagi akan pergi. Demikian pula kenangan selama pelaksanaan Pemilu 2014 dan Pilkada Serentak 2015 akan pergi meninggalkan kita.

Diakhir tahun 2015 ini KPU Kota Kotamobagu punya catatan serta refleksi pelaksanaan Pemilu 2014. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan sebuah kampus terbesar di Kotamobagu bekerjasama dengan KPU Kotamobagu, 52,5 persen responden ternyata tahu pesta demokrasi di daerah ini diwarnai politik uang.

Menurut riset, berdasarkan hasil pengolahan data, pada indikator kegiatan pemberian uang, dari 198 responden yang dihubungi, hanya 18 responden (9,1 persen) yang menyatakan aksi pemberian uang pada kegiatan Pilwako maupun Pemilu 2014 tidak pernah terjadi. Yang menakjubkan, justru sebanyak 104 responden (52,6 persen) menyatakan benar ada aksi bagi-bagi uang pada pilwako maupun pemilu kemarin. Alasan mereka menyaksikan sendiri, mendengar, mengetahui dan bahkan menerima uang politik tersebut.

Yang tidak kalah menarik, indikator yang dikembangkan dalam riset tersebut terkait dengan prilaku masyarakat dimana hanya 24 persen masyarakat yang memilih pemimpinnya didasarkan pada latar belakang dan program kandidat. Sementara 34,3 persen lainnya didasarkan atas pemberian uang, hadiah, jabatan politik, fisik yang menarik, hubungan kekerabatan dan tingkat popularitas kandidat.

Hipotesis Tim Riset, selain jual beli suara, bentuk cara lain yang dikembangkan dalam pesta demokrasi adalah adalah klientelisme (warga dijadikan ‘mesin’ politik kandidat) dan bisa partisan (program untuk simpati warga). Bentuknya mirip dengan jual beli suara dengan maksud menukar janji-janji kandidat dengan suara pemilih.

Bukti yang dikembangkan Tim Riset yakni begitu banyaknya proposal yang masuk ke para kandidat yang sebagian besar berisi permintaan uang untuk mengatasi masalah-masalah warga. Di sisi lain, kandidat pun menebarkan janji-janji untuk memberikan imbalan jika terpilih dan berusaha keras untuk memaksimalkan sumber-sumber ekonominya guna membiayai pencalonannya dan memenangkan persaingan. Jadi, tidak ada yang diuntungkan, kandidat dan warga/pemilih sebetulnya sama-sama merugi.

Diakhir laporan risetnya, mereka memberikan kesimpulan bahwa berdasarkan hasil pengolahan data dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh secara signifikan antara politik transaksional terhadap perilaku pemilih di Kota Kotamobagu sebesar 4,3 persen.

Hal ini dapat dilihat berdasarkan pada beberapa indikator politik transaksional khususnya mengenai kegiatan pemberian uang pernah terjadi sebesar 52,6 persen, mengenai kegiatan pemberian hadiah (imbalan, sembako dan diluar uang sering terjadi sebesar 52,6 persen, mengenai kegiatan pemberian jabatan politik di Kota Kotamobagu pernah terjadi sebesar 56,6 persen. Kemudian pada indikator perilaku pemilih secara rasional memiliki perilaku yang baik sebesar 59,5 persen dan indikator emosional memiliki perilaku yang baik sebesar 40,5 persen.

Dari hasil riset tersebut tim merekomendasikan kepada KPU Kotamobagu untuk melakukan pendidikan Pemilih, baik terkait demokrasi, politik dan kepemimpinan, kepada masyarakat secara terus-menerus sehingga dapat memberikan pemahaman dan kesadaran kepada masyarakat akan pentingnya kehidupan berdemokrasi yang sehat agar dapat menghasilkan pemimpin-pemimpin yang tidak hanya legitimate tetapi juga pemimpin yang jujur, berkompeten dan dapat diterima dengan luas. (**)

About Admin Website

Check Also

GCS Kota Kotamobagu

KOTAMOBAGU – Pelaksanaan Gerakan Coklit Serentak (GCS) sebagai bagian dari tahapan pencocokan dan penelitian (coklit) …

Leave a Reply