PSU Bukan Momok Menakutkan

KOTAMOBAGU – Gelaran pemungutan suara ulang (PSU) yang dilakukan oleh Tempat Pemungutan Suara (TPS) 5 Kelurahan Mongkonai, Kecamatan Kotamobagu Barat, Sabtu (12/04/14), berjalan lancar.

Yang menarik, jumlah partisipasi politik ternyata sangat tinggi, dimana pada pemungutan suara 9 April hanya 297 dari 332 pemilih yang melaksanakan hak pilihnya, pada PSU siang tadi justru meningkat menjadi 306.

“Ini menjadi sejarah dan harus menjadi contoh bagi daerah lain,” tegas Yessy Momongan, Ketua KPU Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) yang menyaksikan langsung jalannya PSU.

Yessy mengaku apresiasi dengan kesigapan dan keseriusan KPU Kotamobagu dalam menggelar PSU di daerah ini. “Daerah lain begitu tergesa-gesa dan bahkan ada yang menyembunyikan persoalan yang terjadi pada pemilu 9 April lalu, ini berbahaya sebenarnya dan bisa bermuara pada sengketa pemilu. Justru pilihan atau keputusan PSU itu sangat bijak,” kata Yessy.

Yessy mengaku saat ini masih banyak penyelenggara yang terkungkung dengan paradigma lama dimana yang namanya PSU itu produk dari sengketa pemilu sehingga beresiko kalau digelar saat ini. “Justru ini pemahaman yang salah, PSU justru keputusan maju ke depan untuk sama-sama menjaga kualitas pemilu agar bisa lebih transparan dan terbuka.”

Yessy bahkan menganggap PSU yang dilakukan KPU Kotamobagu terbilang sangat cermat, dimana mulai dari berita acara serta penyusunan dokumen lainnya dibuat secara baik, karena memang format mulai dari berita acara dan dokumen terkait pemilu ulang baru saja dikeluarkan oleh KPU RI pada Sabtu ini.

“Jadi bagi daerah yang sudah terlanjur menggelar PSU dua hari kemarin diminta untuk menyesuaikan dokumennya untuk tidak lagi menggunakan format Pemilu 9 April, tetapi Pemilu Ulang.”

Dibagian lain Nayodo Koerniawan, Ketua KPU Kotamobagu menambahkan bahwa pilihan PSU sudah tertuang dalam berbagai regulasi mulai dari PKPU hingga surat edaran KPU yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu).

“Kita harus menghilangkan jauh-jauh bahwa PSU itu menakutkan dan momok bagi demokrasi kita. Justru sebaliknya, dengan PSU semuanya jadi serba terkoreksi. Buktinya, tingkat partisipasi politik yang meningkat. Ini membantah asumsi sebelumnya bahwa pemilih pemula akan berkurang pada PSU,” pungkas Nayodo.

Menariknya pada gelaran PSU Mongkonai tersebut KPU Kotamobagu menyediakan sarapan gratis kepada ratusan pemilih. Bisa dibayangkan, hanya dalam waktu tidak lebih dari 30 menit bubur yang dijajakan Adi, pedagang keliling yang dikontrak KPU, langsung ludes. (**)

Leave a Reply