Pentingnya Menggunakan Otak

KOTAMOBAGU – Sebenarnya tak sulit mengukur kemampuan otak dalam berpikir.

Dalam banyak hal Dr dr Taufik Pasiak, MPdI, MKes, Pakar Otak Indonesia, mengaku sering menguji mahasiswa Fakultas Kedokteran dengan sebuah pertanyaan ringan, “pilih mana: ada ontak tapi tidak ada (maaf) ‘ontik’ atau pilih ‘ontik’ tapi tidak punya ontak?”

“Mahasiswa yang salah dalam menjawab saya suruh pulang dan bahkan mengulang tahun depan,” kata Taufik saat memberikan materi bimbingan teknis kepada komisioner dan staf KPU Kotamobagu, Selasa (04/03/14) di Manado.

Secara panjang lebar Taufik menjelaskan bahwa bagian tubuh manusia yang paling sulit dipelajari adalah otak. Walaupun ia memiliki bobot kurang lebih dua persen dari seluruh tubuh manusia, tetapi ia mampu merekam dan mengakses bermiliar-miliar data dan informasi. “Bahkan dia lebih luas daripada angkasa dan lebih dalam daripada samudera,” Taufik.

Dalam banyak hal bahkan Taufik dianggap seorang dokter tetapi banyak tahu tentang agama dan berhasil mengungkap dan menguak tirai misteri sturktur dan fungsi otak yang amat kompleks dan misterius, dengan begitu gamblang dan gemilang. Bahkan di beberapa bukunya Taufik mampu memetakan kecerdasan manusia yang berpusat di otak, baik itu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ) ataupun kecerdasan lain seperti kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetis dan lain-lain.

“Semua kecerdasan manusia berpusat di otak, bukan di dada atau di hati sebagaimana banyak disebut oleh para peneliti kecerdasan manusia lain. Dengan begitu perlu interpretasi ulang terhadap kata “Qalb” (yang disebut-sebut sebagai pusat kecerdasan spiritual atau sebagai “raja” yang bisa menggerakkan seluruh anggota tubuh yang lain) dengan arti “otak spiritual”, bukan dengan “hati” sebagaimana dikenal selama ini. Apalagi “hati” dalam arti anatomis-biologis.”

Selama ini tanpa disadari, lanjut Taufik, perhatian kita lebih terkonsentrasi pada satu jenis kecerdasan saja, yaitu IQ yang identik dengan otak kiri. Padahal konsekuensi dari pendewaan otak kiri itu, kata Taufik, amat tragis: kearifan dari diri manusia menjadi memudar atau bahkan hilang sama sekali.

“Kecerdasan intelektual (semata) justru telah menyeret manusia menjadi buas dan arogan, hingga tidak perduli lagi dengan nilai-nilai kemanusiaan. Terbukti banyak sekali para pelaku kejahatan profesional tingkat tinggi (seperti pembunuhan masal, korupsi dan lain-lain) yang memiliki IQ yang tinggi.”

Berbagai kejadian, terutama yang dilakukan oleh para jenius pertanda bahwa kecerdasan bukan hal penting, meski itu juga menjadi kewajiban. “Orang cerdas yang jahat. IQ-nya tinggi, tetapi EQ dan SQ –nya sangat rendah. Untuk itu perlu optimalisasi fungsi kecerdasan otak secara menyeluruh. Paradigma otak kiri harus dirubah. Karena IQ saja tidak cukup. Potensi EQ dan SQ yang dimiliki oleh setiap manusia harus mendapat perhatian yang serius untuk diasah dan dikembangkan.

Hadir dalam bimtek tersebut para komisioner, Nayodo Koerniawan, Asep Sabar, Iwan Manoppo, dan Nova Tamon serta Agung Adati Sekretaris KPU Kotamobagu berserta para kasubag dan staf. (**)

Leave a Reply