Lupakan Sejarah Pahit KPU-PAN

KOTAMOBAGU – Ada yang menarik pada acara Parpirurna DPRD Kotamobagu yang menghadirkan KPU sebagai tamu kehormatan, Minggu (21/12/14) dini hari.

Meski tidak terjadi perdebatan sengit terkait penetapan APBD 2015 Kota Kotamobagu, namun suasana sempat menegang ketika dua anggota DPRD; Meddy Makalalag (F-PDIP) dan Djelantik Mokodompit (F-PG), yang menginterupsi jalannya sidang. Kedua ‘vokalis’ dari dua kubu yang berbeda (KMP dan KIH, red) itu meminta pimpinan sidang memberikan waktu kepada Ketua KPU Kotamobagu, Nayodo Koerniawan, untuk memberikan sambutan terkait diterimanya penghargaan dari KPU RI.

“Percuma mereka sudah kita undang, tapi hanya menyaksikan jalannya persidangan. Karena itu beri kesempatan kepada KPU untuk memberikan sepatah dua kata di forum yang terhormat ini,” kata Meddy dan Djelantik bergantian.

Usulan tersebut sempat dimentahkan Ishak Sugeha dari F-PD, dengan alasan tidak sesuai aturan persidangan. “Apakah usulan tersebut sudah ada kesepakatan sebelumnya? Karena diaturan tidak memuat soal itu, mulai dari UU Susduk, UU MD3, mau pun tata tertib persidangan DPRD Kotamobagu,” tegas Ishak.

Melihat situasi itu, Ketua DPRD Kotamobagu, Ahmad Sabir (F-PAN) yang memimpin Sidang Paripurna langsung memberikan kesempatan kepada Ketua KPU Kotamobagu untuk memberikan sambutan sebelum paripurna ditutup. “Kita semua patut berbangga dengan prestasi yang ditoreh KPU di ajang nasional. Karena itu mari kita beri kesempatan mereka untuk memberikan sambutan,” ujar Sabir yang disambut aplaus Walikota Kota Kotamobagu, Tatong Bara.

Tak lebih dari 15 menit, Nayodo tampil di podium terhormat DPRD Kota Kotamobagu. Dengan merendah, komisioner KPU tiga periode itu mengatakan bahwa prestasi yang diperoleh KPU Kotamobagu bukanlah sesuatu yang luar biasa, tapi hanya melengkapi prestasi, award dan penghargaan yang diperoleh Kotamobagu sebelum-sebelumnya, seperti Adipura, WTP dan lainnya. “Kalau dihitung-hitung, penghargaan ini yang kedelapan kali diperoleh Kota Kotamobagu,” kata Nayodo.

Dalam kesempatan itu, Nayodo meluruskan pernyataan Beggie Ch. Gobel saat pemandangan akhir F-PAN di paripurna tersebut, terkait sejarah hubungan KPU-PAN di daerah ini. “Jujur saja kami tergelitik dengan pernyataan bahwa antara KPU-PAN ada sejarah pahit dan manis dalam penyelenggaraan Pemilu 2014 kemarin. Sebenarnya kami sudah melupakan semua itu. Kami anggap itu sebuah konsekuensi yang harus dijalani dari sebuah perhelatan politik. Itu juga menjadi pembelajaran politik bagi kita semua, terutama rakyat Kotamobagu.

Tidak itu saja pernyataan Beggie lainnya juga sempat dikomentari Nayodo. Sebelumnya Beggie sempat menganalogikan, anggota legislatif sebenarnya lahir dari seorang ‘ibu’ yaitu rakyat dan ‘ayah’ partai politik. Sementara KPU sebagai ‘perawat’, ‘bidan’, ‘dokter’ atau ‘dukun’ yang membantu proses kelahiran anggota DPRD. “Nah, jika begitu analoginya, bagaimana kalau perawat, bidan atau dukun iseng kemudian mencabut infus?” timpal Nayodo disambut gelak tawa ratusan undangan dan anggota DPRD Kotamobagu.

Yang pasti, masih kata Nayodo, penghargaan yang diterima KPU Kotamobagu pada 17 Desember 2014 lalu tidak terlepas dari dukungan semua pihak, baik pemerintah daerah, masyarakat, partai politik sebagai peserta Pemilu dan para penyelenggara ditingkat bawah; PPK, PPS, KPPS serta Relawan Demokrasi. “Prestasi itu juga merupakan kerjasama yang apik dari aparat keamanan TNI dan Polri,” pungkas Nayodo. (**)

Leave a Reply